Headline

“Gerimis di Pagi Hari” Ungkapan Isi Hati Buat Anak dan Istri Tercinta

Tribunlombok.net –
Badan ku terasa digoyang-goyang. Pagi itu saya masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Mataku masih terpejam. Di kejauhan telingaku mendengan suara azan.
Dan benar saja, anakku yang paling kecil sedang menggoyang-goyang badanku. “Ayah, Bangun. Solat yah!!!”. Ungkapnya dengan suara agak dikeraskan.
Memang kalau masalah yang itu, saya mengajarkan kedua anakku dengan disiplin dan keras. Tidak boleh ditawar-tawar. Tidak dengan urusan yang lain. Masih bisa ditawar dan saya sesuaikan dengan umur mereka.
Subuh kali ini, saya kalah bangun dengan anakku yang paling kecil. Setelah menggeliatkan badan ke kiri dan kekanan. Saya pun dengan sempoyongan berjalan kekamar mandi, dan langsung mengambil air wudhu.
Selesai solat subuh. Saya kembali merebahkan badanku di atas kasur. Mata ini kayaknya sulit sekali diajak kompromi. Sambil samar-samar saya melihat istriku bolak balik ke belakang, kekamar. Sekali-kali membuka lemari menyiapkan baju anak-anak yang akan dibawa.
“ yah ayo siap-siap. Sudah mau setengah 6 ini” ucapnya, sambil kedua tangannya terus bekerja melipat baju-baju yang ingin dibawa.
Memang pagi ini, saya dan istri akan ke Mataram untuk mengantar kedua anak saya mengikuti lomba berenang. Lomba renang kali ini adalah lomba pertama yang diikuti oleh kedua anak saya. Lomba kali ini pun saya dan istri agak memaksa. Yang ada difikiran saya dan istri adalah bagaimana melatih mental kedua anak kami. Mental bertanding. Mental sportifitas. Mental mengalahkan diri sendiri.
Kalau mengejar target menang, itu adalah hal yang tidak mungkin. Dikarenakan kedua anak saya baru belajar renang dengan guru profesional kurang lebih dua bulan.
Melihat semangat kedua anak saya. Kami berdua pun tidak kalah semangat. Yang ada dibenak saya pagi subuh kali ini adalah dapat kekuatan dari mana istri saya.
Pekan ini, jadwal istri saya memang agak padat. Sejak Senin kemarin sampai Jumat, istri saya masih beraktifitas ke luar daerah untuk pekerjaan kantornya. Jum’at itu pun dari bandara langsung ke Mataram menunggu saya yang sedang meeting di Bank Indonesia perwakilan Mataram sampai magrib. Sampai dirumah malam itu sekitar jam 09.30 malam.
Pagi itu, setelah menyiapkan semua keperluan kedua anak kami, istri saya masih semangat. Yang menjadi semangat kami berdua adalah agar anak-anak kami memiliki pengalaman dan punya kepercayaan diri.
Pagi itu, sabtu tanggal 8 februari 2020. Sejak semalam hujan masih membasahi bumi. Begitupun dengan pagi ini. walaupun hujannya tidak sebesar semalam. Gerimis pagi itu membuat orang-orang asik dan tidak mau keluar dari dalam selimut.
Berbeda dengan saya dan istri. Gerimis pagi itu malah membuat kami semakin semangat. Untuk berangkat ke Mataram. “besok jam 7 pagi sudah harus di kolam tempat lomba ya om” itu adalah kata-kata dari pelatih renang anak kami.
Kata-kata itu yang masih terngiang dikepala saya dan istri. Sehingga gerimis pagi ini membuat kami tambah semangat.
Sejak semalam, Ibu saya selalu bertanya “Pakai apa ke Mataram” ungkapnya. Begitupun pagi itu. Setelah mengidupkan mesin motor saya. Dari jendela kamarnya, ibu saya teriak. “pakai apa ke Mataram?”.
“Tenang Uty, Abbas pake mobil. Motor ditaruh di kantor Paokmotong” jawabku. Semoga jawabanku tadi membuat tenang Uty, fikirku.
Sepeda motor Vario itu pun melaju sambil membelah gelap dan dinginnya pagi itu. Gerimis masih tetap dengan formalinnya.
Sepanjang jalan desa Lendang Nangka saya berpapasan dengan orang-orang yang masih memakai mukenah dan baju koko. Orang-orang baru turun dari masjid menjalankan ibadah sholat subuh.
Sekitar 15 menit, saya sampai di Paokmotong. Gerimis pun masih tetap turun, walaupun tanah-tanah di beberapa ruas jalan yang saya lalui sudah jenuh dengan air. Itu terlihat dibeberapa jalan air tergenang seperti membentuk kolam-kolam kecil.
Setelah membuka pintu gerbang kantorku, sepeda motor saya rapikan dan mengunci stangnya. Semoga motor saya aman. Fikirku dalam benak. Tas ransel saya ambil dan langsung meletakkan ke punggung. Lumayan berat juga, gumanku.
Pintu gerbang kantor saya kunci kembali. Gerimis pagi itu masih tetap setia membasahi bumi.
“Ayo kita nyebrang jalan” ucapku kepada istri. Sambil memegang tangan kedua anakku. Beberapa mobil pik up pagi itu sudah terparkir rapi di sepanjang jalan. Memang Paokmotong dikenal sebagai pusat pasar transit untuk kebutuhan sayur. Dan pasar ini akan rame di sore dan pagi hari. Begitupun dengan pagi hari itu.
Tidak lama menunggu. Mobil angkutan yang menuju mataram muncul dari arah keramaian pasar. Mobil angkutan umum ini lebih dikenal dengan sebutan “engkel”. Setelah memberi isyarat dengan melambaikan tangan, mobil engkel pun berhenti persis didepan kami.
“duduk didepan saja” ungkap pak haji, sopir engkel ini. spontan saya menjawab “tidak cukup pak, kami berempat”. Dengan cekatan saya minta istri dan kedua anak saya naik dan mencari tempat duduk yang nyaman di kursi paling belakang. Saya pun naik kedepan dekat sopir.
“bisa dikecilkan suara musiknya pak” ucap saya ke arah pak sopir. Tanpa menjawab, sopir itu pun mengecilkan suara musiknya. Pagi itu gerimis masih tetap turun. Ditambah dengan suara musik tempoe dulu. Menambah suasana pagi itu semakin menggairahkan saya untuk cepat sampai di lokasi lomba renang kedua anakku.
“Yah, kita turun di Alfamart atau Indomaret yang paling dekat dengan Baretais, soalnya mau beli pulsa” ungkap istriku memberi kode dari belakang. Jam di HP saya menunjukkan pukul 06.30.
Tepat di depan Alfamart Sandubaya dekat Telkom Baretais saya pun memberi isyarat ke pak sopir untuk berhenti. Setelah memberi beberapa lembar uang kertas, saya pun turun dari engkel. “terima kasih pak” ungkapku sambil melambaikan tangan ke Pak sopir.
Tanpa dikomando, istri dan kedua anakku langsung masuk kedalam Alfamart. Saya pun mencari kursi kosong didepan Alfamart. Sambil meluruskan kedua kaki, saya membuka tas ransel untuk mencari botol mineral yang sengaja disiapkan oleh istri saya.
Tak lama kemudian, kedua anakku keluar dari dalam Alfamart sambil menenteng tas kresek yang penuh dengan belanja. “kalau sudah masuk pulsanya, langsung saja pesen gocar” kata saya ke istri.
Tanpa menjawab, istri saya langsung membuka aplikasi mobilonline di HPnya. Tak sampai sepuluh menit, sebuah kendaraan Avanza warna hitam mendekat pelan-pelan ke arah kami. Setelah mengecek plat mobilnya, kami pun langsung mendekat. Tanpa dikomando, kami berempat langsung naik kedalam mobil hitam tersebut. “langsung ke lokasi tujuan pak” kataku tanpa menoleh ke sopir disamping saya.
Pagi itu, gerimis di kota mataram sudah berhenti. Jalanan pun sudah mulai mengering. “didaerah mana kolam Moyosakhi?” ungkap sopir kepada saya. “ nah saya baru pertama ini kesana pak, coba ikuti aja aplikasi HPnya” jawabku singkat.
“dikolam Moyosakhi adalah tempat acara lomba renang pak, kayaknya kalau ada tempat rame-rame disitulah kayaknya tempatnya” tambahku ke pak sopir disamping saya.
Benar saja, setelah muter-muter masuk gang di Jalan Halmahera, kami pun menemukan banyak kendaraan yang lalu lalang membawa anak-anak yang berpakaian renang. Gang menuju kolam merupakan gang perumahan sehingga menyulitkan kendaraan untuk berpapasan.
Melihat situasi yang agak ruwet tersebut, saya pun memutuskan untuk turun dari mobil dan mengajak anak-anak untuk berjalan kaki. Biar lebih cepat datang fikirku.
“nah ini dia, saya telpon tapi tidak aktif” kata Om Yan pelatih renang anak saya. Om Yan sudah menunggu didepan gerbang kolam renangnya. “ya om” jawabku, sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Saya langsung bawa anak-anak masuk aja ya, dan langsung ganti baju kataku ke Om Yan. Kolam Moyosakhi letaknya diujung gang. Dan berbatasan dengan sungai. Setelah mengganti baju, saya langsung ajak anak-anak ke pelatihnya, om Yan dan Om Rizki.
Saya dan istri memantau dari kejauhan. Hal ini sengaja kami lakukan agar mental bertanding dan kemandirian mulai tumbuh di anak-anakku.
Lomba renang kali ini diikuti oleh peserta dari club dan sekolah. Sehingga kalau saya pridiksi pesertanya lumayan banyak sekitar seratusan anak-anak.
Karena lomba kali ini merupakan lomba pertamanya, anak saya yang besar agak mulai minder dan mentalnya mulai ciut. Karena melihat pesaing-pesaingnya lebih besar, lebih pede dan lebih segalanya. Benar saja, sebelum namanya dipanggil, anak saya ini mulai mual-mual dan pusing. Berbeda dengan si kecil. malah si kecil sudah tidak sabar namanya dipanggil untuk langsung terjun ke kolam.
Melihat perubahan yang terjadi pada si besar, istri saya langsung menghampiri dan memberikan semangat. “yang penting kakak ikut saja dulu, terjun dan renang, masalah kalah dan menang itu urusan nanti” kata istriku sambil memberikan minyak kayu putih ke punggung kakak.
Tak lama dari kejadian itu, nama kakak dipanggil oleh panitia untuk bersiap-siap. “ayo kakak, semangat” ucapku sambil memegang kepalanya. Mudahan energi kata-kataku tadi menjadi sebuah energi bagi anakku.
Seri 15, untuk kelas 3 dan 4 gaya dada 25 meter putri, tempat si kakak ikut. Setelah peluit berbunyi, kakak langsung terjun dan mulai berenang dengan gaya dada. “ Alhamdulillah, kakak sampai finis” gumanku. Walaupun paling akhir tapi saya bangga pada anakku.
Perubahan 100% terjadi pada si kakak setelah seri 25 meter gaya dada itu. Wajahnya ceria kembali dan semangatnya full lagi. Malah si kakak nantang untuk namanya dipanggil lagi.
Perubahan ini yang saya nantikan bersama istriku. Kedua anak saya memiliki mental bertanding dan berjuang. Semoga pertandingan berikutnya akan memberikan hasil yang berbeda dan sebuah kejutan datang.
“saya siap untuk pertandingan bulan maret dan april lagi yah kata kedua anak saya”. Diatas mobil engkel ketika pulang.

**Cerpen ini ditulis oleh Maharani untuk Istri dan Kedua Anak tercinta

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × five =