Headline

LRC : Sudah Partisipatifkah Reses yang dilakukan oleh DPRD Lotim?

Lombok Timur, Tribunlombok.net – Sejak awal pebruari 2021 yang lalu, seluruh anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur turun ke masyarakat atau konstituen mereka untuk melakukan Reses tahap pertama.

Walaupun dimasa pandemic covid-19 ini. Teman-teman DPRD Lombok Timur semangat untuk melakukan reses ini. Mudah-mudahan dalam mengumpulkan masyarakat atau konstituen mereka tetap menjaga protocol covid sesuai dengan petunjuk dari Tim Gugus Tugas.

Masa reses adalah masa di mana anggota DPRD bekerja di luar gedung atau di luar kantor. Masa reses adalah waktu anggota DPRD melakukan kunjungan ke konstituen atau Daerah pemilihan (Dapil) untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat. Itu berarti reses dilakukan dalam kerangka anggota DPR/DPRD menjalankan tugasnya dalam hal legislasi, penganggaran, dan pengawasan.

Namun, apakah sudah partisipatifkan reses yang dilakukan oleh anggota DPRD Lombok Timur? Atau hanya sekedar menjalankan kewajibannya saja atau bisa juga hanya sekedar menghabiskan anggaran yang ada?

Peneliti dari Lombok Research Center (LRC) bapak Maharani mengatakan habwa memang dimasa yang tidak normal atau dimasa pandemic ini reses yang akan dilakukan memiliki tantangan yang berbeda. Anggota DPRD harus mampu membuat reses yang dilakukan berbeda baik dalam pelaksanaannya maupun dalam menggali masukan-masukan kebutuhan pembangunan yang di masyarakat dan konstituennya.

Jika DPRD Lombok Timur mau memperoleh hasil yang memuaskan ketika reses dimasa pandemi ini, maka harus menggunakan metode reses yang menggunakan metode partisipatif, di mana konstituen ditempatkan sebagai subyek dalam reses. Terminologi “partisipatif” menunjuk pada dua substansi. Pertama, metode reses yang menggunakan pendekatan partisipatif, dalam bentuk diskusi kelompok atau diskusi kelompok terfokus/terarah (focus group discussion,FGD). Kedua, menunjuk pada peserta yang hadir dalam reses yang mewakili berbagai unsur di masyarakat. Partisipasi peserta reses lebih beragam.

Dengan metode partisipatif, konstituen diundang untuk menjadi peserta dalam pertemuan harus mewakili seluruh konstituen di suatu daerah pemilihan atau wilayah. Konstituen juga mewakili berbagai unsur di dalam masyarakat, terutama kelompok-kelompok yang selama ini mengalami marjinalisasi dalam pembangunan, seperti perempuan, perempuan miskin, anak, kelompok disabilitas, kelompok minoritas, dan kelompok rentan lainnya.

Bapak Maharani menambahkan bahwa, jika menggunakan metode partipatif akan mendapatkan hasil yang cukup efektif dan memuaskan. Hasil Reses atau pertemuan partisipatif adalah dokumen tertulis yang menghimpun semua hasil diskusi. Dokumen kemudian menjadi pegangan bagi Anggota Dewan, pemerintah setempat, maupun konstituen.

Dokumen tertulis menjadi sangat berguna bagi Anggota Dewan dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Selama ini Anggota Dewan mengalami kesulitan karena hanya mendapatkan dokumen tertulis dari eksekutif. Tidak ada dokumen lain yang valid yang dapat digunakan sebagai bahan pembanding dalam perencanaan pembangunan maupun penganggaran. 

Karena pertemuan pada reses dilakukan secara partisipatif, maka perlengkapan dalam pertemuan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, seperti tempat pertemuan yang berbentuk huruf U atau lingkaran/bundar. Tempat pertemuan juga memungkinkan peserta lebih nyaman dalam mengikuti pertemuan. Perlengkapan lainnya seperti kertas plano, meta plan, spidol, dan flipchart (tidak wajib).

Semoga reses tahap pertama yang dilakukan oleh DPRD Lombok Timur ini menghasilkan dokumen usulan pembangunan yang bermanfaat bagi daerah. (tl-02)

Related Posts

Tinggalkan Balasan