Headline

Inspiratif, Perjuangan Anak Desa asal Loteng Hingga Jadi Ilmuan Sukses

Dr.H.Lalu Satria Utama, AP, MAP

Menjadi anak desa tidak selamanya tertinggal. Ada kalanya anak desa dan dari keluarga sederhana justeru mengungguli anak kota yang hidup serba ada. Seperti yang ditunjukkan H.Lalu Satria Utama, AP, MAP

Lombok Tengah

Tribunlombok.net – Berada di wilayah dengan keterbatasan akses, infrastruktur dan informasi membuat warga di desa saat itu kesulitan untuk memperoleh kesempatan dan menjadi hambatan untuk mengenyam pendidikan lebih baik

Namun hambatan dan tantangan tersebut mampu dilalui dan dihadapi oleh Dr.H. Lalu Satria Utama, AP, MAP, yang lahir tahun 1976 di Desa Kateng Kecamatan Praya Barat. Semangatnya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya telah menghantarnya berhasil meraih gelar Doktor

Bakat serta kecerdasan yang dimiliki H.Lalu Satria Utamamulai terlihat sejak ia mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD). Saat SD, ia tercatat sebagai siswa berpretasi. Di Sekolah Dasar Ketangga sampai tahun 1989, HL.Satria Utama selalu keluar sebagai juara umum. Capaian tersebut bisa dipertahankannya di SMP 3 Praya Barat.

Perjuangannya tidak sampai disitu. Saat memutuskan sekolah di SMAN 2 Praya, ia kembali dihadapkan kondisi sulit. Lantaran tidak punya uang untuk membayar ongkos kendaraan ke sekolah memaksanya tinggal di salah satu kosan di Praya. 

Tapi jangan dikira menjadi anak kos saat itu seenak dan semudah sekarang. Karena ekonomi, bekal bulanan berupa beras dan lauk pauk yang diberikan keluarganya sangat terbatas. Kondisi ini kemudian mengharuskannya berhemat. Tidak jarang ia harus makan di rumah temannya hanya untun menghemat perbekalan sampai waktu yang ditentukan orangtuanya. Hebatnya, ia mampu bertahan sampai tamat di tahun 1995 dengan Nem terbaik se NTB.

Di SMAN 2 Praya, Satria bahkan memilih jurusan ilmu fisika (A1) yang saat itu merupakan jurusan tersulit dan jarang diminati siswa lain. Walau demikian, ia ternyata masih bisa menunjukkan kwalitasnya. Selain juara kelas, Satria berhasil keluar sebagai peraih salah satu nominasi peringkat 3 Olimpiade Matematika tahun 1994 se Kabupaten Lombok Tengah ( IMO).

Sederet prestasi mulai pendidikan dasar dan lanjutan membuatnya menjadi idola. Tidak hanya menjadi bintang pelajar, prestasinya juga banyak menuai pujian warga di desanya.

Hal ini kemudian membuat orang tuanya lebih bersemangat. Hanya saja saat itu kedua orangtuanya bingung kemana anaknya harus melanjutkan pendidikan tinggi yang sekiranya lebih menjanjikan bagi masa depannya.

Di tengah kebingungan tersebut, lanjut Satria, Kepala sekolah SMA 2 praya saat itu, Drs. Mersam Suma menyarankannya agar melanjutkan pendidikan sarjana ke STPDN di Jatinangor. 
Bak gayung bersambut, seleksi masuk STPDN dilalui dengan mulus. Masa pendidikan dilalui dengan baik hingga tamat pada tahun 1999 dan menjadi Pamong Praja Muda (PPM) yang dikukuhkan Presiden. Setelah PPM, ia kemudian menempati beberapa jabatan penting di Pemkab Bima dan Lombok Tengah.

Menjadi pejabat ternyata tidak membuatnya puas dengan ilmu yang dimiliki. Berkat prestasinya, tahun 2006 Pemkab Lombok Tengah menugaskannya sebagai pegawai tugas belajar ke Universitas Brawijaya Malang hingga menamatkan Magister bidang konsentrasi Kebijakan Publik tahun 2008 dengan prestasi memuaskan.

Setelah mencermati dinamika penyelenggaran pemerintahan membuatnya tertarik bergabung di dunia akademisi tahun 2010. 
Hebatnya, sebelum itu ia dipercaya sebagai perencana pada Bappeda Kabupaten Lombok Utara (2008-2010).

Sementara itu di kampus ia dipercaya menjadi pejabat pada Bagian umum dan kemahasiswaan tahun 2010-2015. Berangkat dari ketertarikan pada kehidupan kampus dan dunia akademis, ia kemudian memilih menjadi tenaga pengajar pada Institut Pemerintahan dalam Negeri tahun 2016 sampai sekarang. 
Di tahun yang sama ia memutuskan menimba ilmu pada program Doktor ilmu pemerintahan hingga menamatkan studi doktor ilmu pemerintahan ke 106 se Indonesia.

Hebatnya, di tengah kesibukannya ia mampu menyesaikan salah satu karyanya ilmiah yang sangat luar biasa. Yakni Kajian implementasi kebijakan Dana Desa dalam menguatkan kemandirian desa yang kini dikaji penerapannya oleh pemerintah pusat.

Dalam penelitiannya ini H.Lalu Satria berhasil mengajukan sintesis atas adanya dua pendekatan pada UU 6 tahun 2014 tentang desa, sebagai self governing community dan sebagai local self government dengan mengajukan konsep model baru yaitu model Implementasi Interaksi Pemberdayaan (model IIP) dengan menekankan pada kesungguhan proses interaksi dan pemberdayaan yang menghasilkan pembentukan nilai (values) sebagai outcome policy. Proses interaksi dan pemberdayaan dimaksud dapat dicapai dengan keharusan ada perekat. Yaitu adanya Capacity, Commitment, Communication dan Cohesiveness (4 C). Model ini akan menghindarkan desa dari kondisi legalistik manipulative, rendah partisipasi dan perilaku KKN, karena keterlibatan berbagai elemen dan kontrol sosial yang baik. 

Menurutnya, sumbangan karya ilmiah tersebut menjadi spesial ditengah wacana tentang kemandirian desa yang menjadi target salah satu nawacita presiden Joko Widodo. Terlebih kemandirian desa saat ini diuji dan sudah seharusnya ditingkatkan di tengah wabah covid 19. Di situasi ini, menurutnya desa harus tangguh terhadap bencana. 

Karya ilmiahnya tersebut juga ia dedikasikan bagi keluarga besarnya. Khususnya mamik dan inaq tuannya, istri, Datu Bini Dewi Sagitarini yang telah ikut berjuang dengan penuh kesabaran mendukungnya selama ini. Juga untuk putra putri tercintanya yakni Lalu Naufal, Baiq Umayya dan Lalu Maleeq Al Darabi.

Selain semangat, hal positif yang perlu dicontoh dari H.Lalu Satria adalah sikap rendah hatinya. Walaupun sudah menjadi orang sukses, tidak lantas membuatnya jumawa. Bukannya sombong, dirinya justeru mengaku ingin lebih dekat dengan masyarakat.

Di tengah kesibukannya pria yang dikenal murah senyum itu banyak terlibat kegiatan sosial. Salah satunya memotifasi anak lain agar lebih giat belajar. Serta meningkatkan kesadaran kepada para orangtua agar sadar pentingnya pendidikan.

Ia berharap perjalanan hidupnya bisa menginspirasi anak dan remaja terutama di desa agar lebih giat belajar dan berprestasi. Karena menurutnya, ketiadaan bukan alasan untuk berdiam diri. Sebaliknya, harus menjadi penyemangat perjuangan meraih kesuksesan dan masa depan lebih baik.

Khusus warga Kateng, Mangkung dan sekitarnya, ia berpesan agar jangan menyerah dan berhenti berjuang. Karena menurutnya menyerah berarti mati, sedangkan berjuang berarti menang.

Selamat kepada pak doktor atas promosi sidang terbukanya. Semoga bermanfaat bagi masyarakat luas. (red)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 − one =