Headline

Kerap Tak Dilibatkan di KEK, Sopir Dump Truck Pujut Bersatu

PUJUT

Tribunlombok.net — Pembangunan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resort sejak beberapa tahun terakhir ini cukup pesat. Berbagai proyek sudah mulai dikerjakan. Mulai dari penimbunan, pembuatan jalan, penataan kawasan hingga pembangunan sirkuit MotoGP. Bahkan sebentar lagi bakal dibangun jalan Bypass sirkuit sepanjang 17 kilometer dan lebar 50 meter. Mulai dari BIL di Desa Tanak Awu hingga KEK Mandalika. Hanya saja, dari sekian banyak jenis pembangunan ini, pengembang kawasan dalam hal ini Indonesian Tourism Developmen Corporation (ITDC) dinilai masih belum memanfaatkan tenaga kerja dan fasilitas lokal. Salah satunya yakni sopir dum truck di wilayah Kecamatan Pujut. Atas dasar itu, sore kemarin ratusan sopir dum truck beserta armadanya berkumpul menghadiri pengukuhan organisasi mereka. Dimana organisasi ini dinamakan Persatuan Sopir Dum Pujut (PSDP) Kecamatan Pujut.

“Hari ini kita perkuat keberadaan kita dengan mengukuhkan terbentuknya PSDP,” ujar Ketua Acara Pengukuhan yang juga pengurus PSDP, Suharto Adi Atmaja.

Dikatakan Adi Atmaja bahwa, di Kecamatan Pujut ini ada sekitar 500 dump truck. Semua itu tersebar di 16 desa. Namun karena tidak pernah kompak, banyak dump truck yang jarang terakomodir ikut bekerja di KEK. Bahkan tidak sedikit dari pihaknya yang tidak pernah terlibat sama sekali. Padahal giat pembangunan di Pujut selama ini cukup pesat. Hal ini tentu menjadi keluh kesah para sopir dum selama ini. Padahal hakekatnya pembangunan itu, mestinya warga lokal harus terlibat.

“Rencana pembentukan organisasi ini sudah lama kami inisiasi dengan harapan biar keberadaan kami bisa terorganisir. Karena perlu diketahui, selama ini kami sopir dum truck Pujut, miris dengan kebijakan-kebijakan para kontraktor atau pengembang di KEK Mandalika dan sekitarnya,” akunya.

Pria asal Desa Sengkol ini juga mengutarakan, jika melihat proyek nasional dan lainnya yang membutuhkan tenaga supir dump truck yang banyak. Hanya saja, ia menilai proyek-proyek tersebut menganaktirikan sopir dump truck yang ada di Pujut. Fenomena seperti itu sangat jelas terlihat di lapangan dari kebijakan yang diterapkan pengembang, kontraktor maupun sub kontraktor. Kalaupun difungsikan, hanya di tempat tertentu saja. Mirisnya lagi, yang banyak digunakan malahan dump truck dari Lombok Timur. Ia mencontohkan, ketika ada pembangunan sirkuit MotoGP di KEK Mandalika, sopir dump truck dari Pujut tidak pernah diajak duduk bersama untuk membahas apa saja jenis jasa angkutan yang bisa melibatkan dump truck lokal. Apalagi terkait dengan teknis kerja pembangunan sirkuit di lapangan. Atas dasar demikian, pihaknya sering kali aksi secara sporadis ke pihak ketiga ataupun ke ITDC. Namun karena tidak terorganisir, hasilnya pun tidak optimal. Terlebih lagi, pihak yang berkepentingan di pembangunan itu kerap kali tidak menghiraukan aksi tersebut. Oleh karena itu, melalui PSDP ini ke depan pihaknya bakal menyelsaikan persoalan itu.

“Kita ingin apa yang mejadi poin penting dalam pembangunan, kami ikut dilibatkan. Apa yang dinamakan kearifan lokal harus dijunjung tinggi. Jika ingin berpihak pada tenaga lokal, mohon kami dilibatkan,” ungkapnya.

“Kalau kami mau jujur, selama ini teman-teman sopir merasa dirugikan dan merasa dibenturkan dengan sub kontraktor lokal dalam hal ongkos. Dimana, ongkosnya cukup minim, alasan itu kadang mereka pakai dump truck luar. Ini kan semena-mena namanya,” tukasnya.

Sementara itu Camat Pujut, Lalu Sungkul menyambut baik keberadaan PSDP ini. Pasalnya, dengan keberadan kawasan strategis nasional di Pujut, tentu pekerja lokal tidak boleh dianaktirikan untuk menjadi pekerja, baik pada fase pembangunan maupun pasca pembangunan. Maka, dengan terbentuknya PSDP ini ia berharap bisa menjembatani harapan para sopir dan pemilik alat berat yang selama ini belum terealisasi.

“Di Pujut ini kita akui banyak rencana pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Terkait misi pemerintah ini, harus memang dirasakan oleh masyarakat lokal, tidak bisa dikesampingkan atau dianaktirikan,” terang Sungkul.

Terkait hal ini ujar Kabid Destinasi pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Loteng ini, dalam pembangunan di KEK ini pemerintah tidak ada niat dan tujuan untuk mengesampingkan keberadaan tenaga lokal. Sehingga kalaupun selama ini tidak banyak dilibatkan, ia melihat itu karena kurangnya komunikasi saja. Tentu ini juga bagian dari proses untuk lebih baik ke depan dan melalui organisasi ini, hal seperti itu tidak boleh terjadi. Dengan catatan, organisasi ini juga harus solid, jangan sampai terpecah belah dan nantinya semua anggota jangan hanya mementingkan kepentingan pribadi saja ketika ingin ikut dilibatkan. Terutama ketika pembangunan Bypass BIL-KEK Mandalika ini dimulai pada Agustus mendatang. Artinya, penguasaan proyek dan penunjukannya dump truck oleh pihak ketiga maupun sub kontraktor untuk bekerja, harus melalui organisasi.

“Sekarang sudah ada organisasinya. Nanti jangan lagi ada yang saling sikut dan saling salip. Saya berharap kebersamaan dan semangat ini dibawa sampai program pembangunan yang banyak di Pujut ini tuntas. Tapi mohon juga, rekan-rekan jangan minta bayaran terlalu mahal juga sama pengembang, kontraktor maupun sub kontraktor. Tapi realistis sesuai dengan besaran proyek atau spesifikasi,” pungkasnya. ( tl-03 )

Related Posts

Tinggalkan Balasan