Headline

KNPI Lombok Timur Pertanyakan Lambannya Penanganan Kasus Pengerusakan Ponpes Dhiya’ul Fikri oleh APH

Lombok Timur
Tribunlombok.net – Lambannya penanganan kasus pengerusakan gapura Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiya’ul Fikri oleh Aparat Penegak Hukum (APH) yakni pihak kepolisian Polres Lombok Timur mendapat sorotan tajam pihak DPD II KNPI Lotim.

” Tiga Minggu sudah, pasca pengerusakan Ponpes tersebut, namun sampai saat ini belum ada tindakan atau perkembangan dari penanganan kasus tersebut,” terang Ketua DPD II KNPI Lotim, Muhammad Habiburrahman

Diungkapkan bahwa, tanggal 8 Juni 2020 menjadi titik buram dunia pendidikan, salah satu pondok pesantren yang berada di SUKARARA dalam tekanan. Para santri berkabung dengan ketakutan, wali murid sejak peristiwa itu menelepon para asatidz Ponpes. Nampaknya mereka khawatir, pengerusakan gapura yang dilakukan oleh oknum masyarakat mempengaruhi konsentrasi belajar anaknya, dan poin terpentingnya adalah keamanan.
Pondok Pesantren yang sudah memiliki alumni penghafal Qur’an ini tidak lagi fokus terhadap proses belajar mengajar dan mendidik insan qurani, melainkan disandera dengan rasa was was dan kepastian hukum atas perlakuan persekusi oknum oknum warga. Layaknya dunia pendidikan pada umumnya, iklim ketenangan dan tanpa gangguan kekerasan dan kebisingan merupakan keniscayaan yang harus diwujudkan.

Respon dan atensi publik sangat tinggi saat itu. Kini sudah memasuki usia 3 Minggu, sejak dilaporkannya kasus ini pada tanggal 9 Juni 2020, nampaknya belum ada progress yang memuaskan. Kami publik masih memantau dan menanti kepastian proses hukum yang telah menyandera dunia pendidikan.
Siapapun mereka dan darimanapun latar belakang para oknum yang mencederai dunia pendidikan entah horor ketakutan kepada para siswa/santri, merusak fasilitas kawasan pondok pesantren merupakan common enemy bagi kami.

Sembari menunggu proses keadilan, kami mempercayai proses hukum ini sportif dan penuh rasa keadilan.

“Sekali lagi, kami tidak lupa dan terus melawan lupa.
Ponpes Dhiaya’ul Fikri kami pastikan tidak sendiri dalam memperoleh keadilannya,” pungkasnya.

Adapun pimpinan Ponpes Dhiya’ul Fikri, TGH.Gunawan Ruslan juga mengaku heran kenapa proses hukum atau penganan kasus tersebut sangat lamban.

Dimana dijekaskan bahwa, sampai saat ini belum ada tanda-tanda peningkatan penanganan dari kasus pengerus tersebut.

“Saya sedikit heran dan bertanya-tanya, kenapa penanganan kasus tersebut lamban. Sementara saksi dan bukti yang diminta penyidik sudah dipenuhi,” ungkapnya.

Sementara Kopolres Lombok Timur yang coba dikonfirmasi terkait perkembangan penanganan kasus tersebut, sampai berita ini diturunkan belum menanggapi. ( tl-02 )

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − 14 =